Sejarah Islam di Aceh
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Masuknya Agama
Islam di Aceh
Aceh merupakan daerah Indonesia yang menjadi tempat awal penyebaran
agama Islam di Indonesia. Ada berbagai macam teori tentang awal mula penyebaran
agama Islam, berdasarkan data-data yang telah berhasil ditemukan oleh para
sejarawan. Teori yang terkenal dicetuskan oleh Hamka. Menurut teorinya usaha
penyebaran agama Islam ini dilakukan pada abad 7 atau 8 Masehi oleh para
pedagang yang singgah untuk melakukan transaksi jual beli. Lebih lanjut
dikatakan Islam yang berkembang di Aceh berasal langsung dari Arab. Pada saat
itu, Perlak menjadi pilihan para pedagang baik Eropa maupun Arab dikarenakan
posisinya yang strategis, yaitu di Selat Malaka, jalur perdagangan
internasional dari barat ke timur. Marco
Polo, seorang petualang dari Italia, juga menguatkan teori ini. Ia menyebutkan
telah singgah di Perlak pada tahun 1292 M dan ia berjumpa dengan orang-orang
yang telah menjadi Muslim. Bukti lain yang menguatkan teori di atas yaitu
penemuan nisan makam Sultan Samudera Pasai, Sultan Malik al-Shaleh yang
berangka tahun 1297 M. (Machfud Syaefudin, dkk., 2013: 247-253)
Gambar 1. Nisan makam Sultan Malik al-Shaleh
Sumber : http://knowledgeprovider.blogspot.co.id/2011_10_01_archive.html,
2011
Perkembangan Islam di Aceh juga turut disebarkan
oleh seorang ulama dari Makkah, Syaikh Ismail. Keterangan tersebut dinukil dari
kitab sejarah Melayu dan Hikayat Raja-raja Pasai. Selain Perlak, tempat lainnya
yang turut disinggahinya yaitu Lamuri,
Barus dan lain-lain. (Wikipedia, Islam di Aceh, lihat di https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Aceh). Dari teori yang telah dipaparkan diatas, penulis
berkesimpulan Aceh merupakan tempat awal mula penyiaran agama Islam pada abad 7
atau 8 Masehi, berasal dari Arab yang dibawakan oleh para pedagang
2.2 Sejarah Kerajaan di Aceh
2.2.1
Kesultanan Aceh Darussalam
Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun
1514 Masehi. Terletak di Kuta Raja, kesultanan ini memulai ekspansi kekuasaan
yang dimulai dari Daya, di sebelah barat laut Aceh. Kemudian selanjutnya
menguasai berbagai daerah lainnya sehingga Kesultanan Aceh dapat menaklukkan kesultanan
lain seperti Johor (1613 M), Pahang (1618 M), Kedah (1619 M), serta Tuah (1620
M). Kuta Raja memiliki pelabuhan laut yang luas, banyak kapal dagang asing yang
singgah sehingga sangat menguntungkan
bagi Kesultanan Aceh. Apalagi sejak Malaka jatuh ke Tangan Portugis banyak
pedagang luar negeri yang memilih berdagang di Kuta Raja daripada dengan
Portugis. (Machfud Syaefudin, dkk., 2013: 258-259)
2.2.1.1 Era Kejayaan
Kesultanan Aceh
Gambar 2 : Istana Daruddunya pada saat Sultan Iskandar Muda
berkuasa
Sumber : http://www.atjehcyber.net/2011/04/kesultanan-aceh-darussalam-full.html
Dalam sejarah Kesultanan Aceh pada tahun 1607 Masehi, Sultan
Iskandar Muda diangkat menjadi raja yang mana masa pemerintahannya Kesultanan
Aceh mencapai era keemasan(1607-1636 M.), hal ini tidak terlepas dari gaya
pemerintahannya yang tegas. Pada saat pemerintahannya para bangsawan diwajibkan
mengikuti jaga malam di istana, hal yang tidak pernah diterapkan oleh sultan
sebelumnya. Kesultanan Aceh pada saat itu juga mengekspor beras ke luar daerah,
selain memungut pajak dari kapal asing yang singgah di pelabuhan. Dalam bidang
militer, dikisahkan Kesultanan Aceh memiliki 100-200 kapal dengan jumlah
prajurit diperkirakan 16 ribu personel, disetiap kapal tersebut memiliki 3
meriam tempur. Seorang pengelana asing bernama Beaulieu dari Perancis
mengatakan pada saat itu kekuatan daya tempur Angkatan Darat Kesultanan Aceh
mencapai 40 ribu personel. Sehingga pada saat itu Kesultanan Aceh dapat
dihormati kawan dan disegani lawan. (Machfud Syaefudin, dkk., 2013: 261)
Taufik Abdullah (2005:256) menuliskan syair Hikayat Perang Sabil
yang merupakan karya dari Teungku Nya’ Ahmad:
”Yang memerangi kafir dalam perang sabil
Niat mempertinggi kebenaran agama
Kalimah Allah agama Islam
Kafir jahannam isi neraka
Sabilillah dinamai perang
Tuhan berikan akhirnya surga
Mengikuti suruhan sampai ajal
Pahala kelak sangat sempurna”
2.2.1.2 Keruntuhan
Kesultanan Aceh
Setelah Sultan
Iskandar Muda wafat, Belanda mulai berani untuk mengusik Kesultanan Aceh. Pada
tahun 1871 M, ditandatangani Traktat Sumatera antara Inggris dan Belanda yang
berisi pembatalan perjanjian di London pada tahun 1824 M., sehingga Belanda
menyerang Kesultanan Aceh pada tahun 1873 M, sehingga Belanda dapat menundukkan
Kesultanan Aceh di tahun 1904 M. Namun demikian perjuangan rakyat Aceh untuk
bisa bebas dari penjajahan Belanda tetap berlangsung, dengan dipimpin oleh Tjut
Nyak Dhin, Teuku Umar, dan berbagai tokoh lainnya.(Anon, 2011, Sejarah Lengkap: Kesultanan Aceh Darussalam (Mengulas Lebih Detail),
lihat di http://www.atjehcyber.net/2011/04/kesultanan-aceh-darussalam-full.html).
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Titik mula sejarah Aceh baru saja dimulai saat agama Islam
disebarkan oleh para pedagang. Mereka membeli hasil bumi dari negeri hijau nan
elok ini sambil berdakwah pada penduduk setempat. Lambat laun masyarakat mulai
banyak yang memeluk agama Islam, meski belum secara besar-besaran. Perjuangan
dan kesabaran dari para mubaligh akhirnya membuahkan hasil dengan berdirinya
Kesultanan Perlak pada tahun 840 M., Kesultanan Samudera Pasai pada abad 13 M.,
disusul didirikannya Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1514 M. Dengan
didirikannya kesultanan tersebut memberikan efek positif bagi penyebaran agama
Islam di Aceh. Sejarah mencatat Kerajaan Aceh Darusslam mencapai masa
kejayaannya pada saat Sultan Iskandar Muda berkuasa. Ia merupakan seorang
sultan yang tegas. Pada masa kepemimpinannya Kesultanan Aceh Darussalam dapat
menaklukkan berbagai kesultanan yang pada saat itu berkerjasama dengan
Portugis. Yang sangat membanggakan dari era kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam
adalah berbagai peninggalan yang bisa kita pelajari dan mengambil manfaat darinya.
Komentar
Posting Komentar